My Blog List

Wednesday, June 20, 2012

Cerita Seks Dewasa Perdanaku

Cerita Seks Dewasa Perdanaku  terbaru 2012.




Waktu itu umurku 11 tahun umur yang sangat muda bahkan boleh dikatakan masih anak-anak untuk mengetahui mengenai hubungan sex atau bersenggama, mendengar kata itupun aku tidak pernah dan memang sebelum kejadian itu aku tidak pernah tahu mengenai masalah sex apalagi berhubungan sex dengan lawan jenisku. Tetapi karena kejadian itulah yang menjadi awal hidupku dalam bersex, aku langsung melakukan, merasakan dan mengetahui hubungan sex dan kenikmatannya sampai sekarang.




video-bokep-2.jpg








click.gif








10.gif



12.jpeg



13.gif



15.gif



16.gif



showimg+(1).gif



showimg+(1).jpeg



showimg+(2).gif



showimg+(3).gif



showimg+(4).gif



showimg+(5).gif



showimg+(6).gif



showimg+(7).gif





showimg.gif



showimg.jpeg





19.gif



giant.gif



showimg+(1).gif



showimg+(1).jpeg



showimg+(2).gif



showimg+(2).jpeg



showimg+(3).gif



showimg+(4).gif



showimg+(5).gif



showimg+(6).gif



showimg+(7).gif



showimg+(9).gif



showimg.gif



showimg.jpeg







Seperti hari-hari biasanya sepulang dari sekolah aku pasti langsung keluar bermain sehabis makan siangku, waktu itu aku dan dua teman laki-lakiku serta satu teman perempuan, sebut saja namanya Awal, Nono dan Ana pergi bermain ke rumah salah satu teman perempuan kami yang masih satu lorong dengan kami namanya Tari.

Diantara kami berlima hanya Ana yang mempunyai postur tubuh yang seperti orang dewasa, maksud saya seperti sudah berumur 16 tahun padahal umurnya baru 13 tahun, lebih tua dua tahun dari kami berempat. Rumah Tari berada paling dalam di lorong kami kira-kira 6 rumah dari rumahku. Aku, Awal, Nono dan Ana berjalan menyusuri lorong kami menuju rumah Tari yang berada paling belakang. Kamipun tiba didepan rumah Tari tetapi rumah itu kelihatan sepi tidak seperti biasanya terdengar keras suara tape yang diputar oleh ibu Tari. Akupun mulai membuka pintu halaman dan masuk ke halaman diikuti Ana, Nono dan Awal.

"Tari.. Tari..", teriak Ana mencoba memanggil.
"Klek.. klok", terdengar suara kunci pintu depan dibuka dan keluarlah seorang wanita dari pintu itu.
"Mari, cari Dik Tari ya?", tanya wanita itu yang ternyata adalah Wati, pembantu di rumah itu.

Tak lama kemudian dari belakang Wati muncul Tari sambil memegang sebuah gelas berisi air.
"Ayo naik", Tari menyuruh kami naik ke teras rumah.
"Kok sepi", kataku.
"Mama dan Papaku lagi ke luar kota selama 2 hari", jawab Tari.

Mungkin karena udara siang itu gerah sekali maka Tari hanya memakai baju kaos kutang(mini size) dan rok pendek berwarna biru sehingga kulitnya yang putih dan mulus itu hampir kelihatan seluruhnya kalau payudaranya sih belum ada, ada sih tetapi 'BaTuTe' alias 'Baru Tumbuh Tete' namanya juga masih anak-anak pantas saja kalau ia berani hanya memakai pakaian seadanya itu. Tari memang mempunyai wajah dan postur tubuh yang sangat feminin dibanding dengan Ana.

Tari sudah tahu kami datang kerumahnya untuk bermain, Taripun masuk kedalam rumah dan kemudian keluar dengan membawa segala macam permainan yang akan kami pakai bermain. Lalu Watipun keluar membawa satu ceret berisi sirop dan lima gelas kosong dan diletakkannya diatas meja teras.

"Kalau ada yang haus ini minumnya aku taruh disini", yang kemudian masuk kedalam meninggalkan kami yang sudah asyik bermain dengan permainan kami masing-masing.
"Dik Tari aku ke tetangga depan dulu ya..", kata wati yang sudah berada dibawah halaman.
"Jangan lama ya Kak Wati! Kalau mereka semua sudah pulang aku sendirian", kata Tari kepada pembantunya itu, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Wati dan langsung keluar dari halaman dan menghilang.
Kamipun semakin asyik dan bebas bermain dirumah yang penghuninya tinggal Tari sendiri.

Karena capek atau mungkin juga bosan akupun berhenti bermain dan menuju meja tempat air sirop yang disediakan Wati tadi sebelum pergi meninggalkan kami. Aku menumpahkan sirop itu kedalam gelasku dan meminumya dengan perasaan haus kemudian aku berbaring dilantai teras itu. Rupanya Tari, Ana, Awal dan Nono melihatku berhenti bermain merekapun ikut berhenti dan mengambil minum, sama seperti aku lalu beristirahat. Awal dan Nono ikut-ikutan berbaring di sampingku sementara Tari dan Ana duduk di kursi teras sambil berbincang-bincang ringan.

"Bagaimana kalau kita nonton video sambil beristirahat, nanti sebentar selesai nonton baru kita lanjut bermain lagi?", kata Ana kepada kami.
Ide Ana itu akhirnya kami setujui bersama, lalu kami berlima bergegas masuk kedalam rumah menuju ke ruang tengah tempat televisi berada.
"Mau putar film apa ya..?", tanya Tari kepada kami sambil membuka lemari tempat penyimpanan kaset videonya.
"Film kartun ada Tar?", tanya Nono.
"Aduh baru kemarin sepupuku datang untuk meminjam film itu", jawab Tari.
"Bagaimana kalau film perang atau detektif saja", kata Awal asal.
"Oh kalau itu banyak disini, Papaku suka nonton film perang tetapi yang mana ya..?", sambil menarik kemudian melihat satu-persatu kaset video yang ada didalam lemari itu dibantu oleh Ana.
Ana memang paling suka nonton video dirumahnya jadi urusan memilih film kami serahkan pada dia.
"Bagaimana kalau yang ini", seru Ana sambil mengangkat sebuah kaset berwarna merah.
Setelah aku melihatnya dari dekat kemudian membaca dan melihat gambarnya ternyata film 'James Bond(007)' yang setahu aku terkenal dengan adegan-adegan adu tembaknya dan kejar-kejaran dengan mobil. Film itu juga terkenal atau lagi trend pada waktu itu.
"Aku pernah nonton ini sebagian dirumahku, aku jamin pasti tegang", kata Ana pada kami sambil menyerahkan kaset video itu kepada Tari untuk diputarkan.

Kamipun mencari posisi masing-masing diruangan itu untuk menonton film tersebut sementara Tari sibuk menyetel-nyetel video dan televisinya, aku melihat Awal duduk diatas sofa sambil mengangkat kakinya satu yang tanpa dia sadari penisnya keluar sedikit dari samping celananya karena hanya memakai celana pendek dan tidak mengenakan celana dalam sama seperti saya, Nono dan anak laki-laki seumur kami di daerahku, sementara Nono mengambil posisi tiarap di lantai persis di depan sofa tempat awal duduk. Taripun mundur ketika film sudah mulai bermain dan duduk bersila di sofa panjang tempat Ana sedang tiarap dengan posisi melipat kakinya kedepan sehingga roknya terangkat dan celana dalamnya dapat terlihat dengan jelas olehku karena aku duduk tepat dibelakang sofa Tari dan Ana, aku memang berada paling belakang dari mereka berempat kira-kira satu meter jaraknya dari depan televisi.

Adegan pertama dari film itu sudah seru sekali kami lansung tegang menyaksikannya, adegan tembak menembak dan saling kejar dengan mobil membuat kami kadang berteriak dan sesekali menahan napas, pokoknya seru sekali. Tanpa sengaja aku melihat kearah Tari yang lagi duduk bersila sambil memegang sebuah gelas panjang dan diletakkan ditengah kedua belah pahanya, apabila ada adegan yang tegang gelas itu dijepit erat sekali oleh kedua pahanya dan menekan turun gelas itu, aku jadi ketawa sendiri melihat kelakuan Tari itu, bukan karena pikiranku ngeres tapi karena aku membayangkan seandainya gelas itu tiba-tiba pecah dan dia kaget.

Akhirnya sampailah pada salah satu adegan yang juga tak kalah menariknya dari adegan-adegan adu tembak, ternyata film itu ada adegan ranjangnya, ditambah lagi film ini tidak memakai teks bahasa Indonesia seperti film asing lain yang telah melalui sensor sehingga adegan yang kami lihat betul-betul full sex untuk ukuran anak seusia kami. Prianya bertelanjang bulat hanya penisnya saja yang tidak kena kamera (shoot), namun wanitanya hampir kelihatan semuanya hanya vaginanya yang sesekali terhalang oleh suatu benda.

Keadaan diruangan itu menjadi sunyi ketika adegan panas itu berlangsung beda pada waktu adegan sebelumnya kami kadang harus mengeluarkan teriakan karena tegang. Kini kami semua terdiam hanya suara desahan dan rintihan yang terdengar dari dalam televisi serta suara napas kami yang saling memburu tidak menentu menyaksikan adegan panas di film itu.

Perasaanku menjadi panas dingin tak menentu, penisku mulai ereksi, beberapa kali terpaksa aku memasukan tanganku ke dalam celana untuk memperbaiki posisi penisku yang semakin kuat berereksi, lagipula akukan berada pada posisi paling belakang dari teman-temanku dan tertutup oleh sofa tempat Tari dan Ana, jadi tidak ada yang bisa melihat pikirku, justru aku yang dapat dengan leluasa mengamati mereka berempat dari belakang.

Aku melihat Awal sudah menurunkan kakinya satu yang tadi berada diatas sofa, kini kedua pahanya dirapatkan mungkin ia sedang menjepit juga penisnya yang sedang ereksi. Sedangkan Nono yang masih tiarap di lantai walaupun dilihat sepintas tidak melakukan aktivitas tetapi dari tempatku, aku amati dengan jelas pantatnya sesekali bergoyang-goyang kecil menekan kebawah seperti ingin menghancurkan lantai yang berada dibawahnya dan Ana kini telah berubah posisi, ia sudah tidak tiarap lagi diatas sofa tetapi berbalik dan terlentang sambil kakinya dilipatkan dan menggoyang-goyangkan kedua pahanya sehingga roknya jatuh ke belakang yang tentu saja pahanya yang sintal kelihatan olehku tetapi bukan itu saja celana dalamnya juga aku lihat dengan jelas ada semacam bukit kecil yang tersembunyi dibalik celana dalam itu setelah aku perhatikan dengan seksama apalagi ketika kedua pahanya dalam posisi terbuka. Beda dengan yang lain, Tari semakin rapat menjepit gelas ditengah pahanya sambil tersenyum kecil dengan wajah putihnya yang sudah kemerahan.

Akhirnya film itu selesai kami tonton, kami saling memandang dan saling melempar senyum satu sama lain sementara Tari menuju ke tempat videonya untuk mematikan televisi dan video. Aku, Nono dan Awal berjalan kembali menuju teras dengan maksudku untuk melanjutkan bermain.Tak lama kemudian Tari dan Ana juga sudah berada diteras bergabung dengan kami bertiga.

"Aku pulang dulu ya", kata Nono.
"Aku juga", seru Awal kepada kami, lalu mereka turun dari teras dan pulang entah kenapa mendadak begitu.

Sekarang kami tinggal bertiga setelah Awal dan Nono pulang kerumahnya, sementara hari sudah semakin siang namun Wati pembantu Tari belum pulang Juga mungkin asyik ngerumpi dengan pembantu tetangga depan sehingga lupa waktu.

"Bisa tidak kamu meniru gerakan yang di film tadi?"
"Bisalah!" jawabku membalas pertanyaan Ana.

Lalu aku melakukan gerakan-gerakan menembak, memukul, menendang pokoknya seluruh gerakan laga yang ada di film tadi, tetapi rupanya bukan gerakan itu semua yang diinginkan oleh Ana lalu ia berjalan menuju kearah Tari dan mengajak Tari masuk kedalam ruangan tempat kami menonton tadi akupun mengikuti mereka berdua dari belakang. Aku berpikir mungkin Ana menyuruh memutar film lagi agar aku bisa melihat gerakan laga yang ada di film. Tetapi ternyata kenyataannya lain, Tari ia baringkan di sofa panjang tempat duduk mereka berdua nonton tadi, lalu mengangkat rok Tari keatas, jelas saja Tari kaget dan menarik turun roknya kembali. Tetapi ternyata Ana tidak berhenti sampai disitu.

"Kamu mau nggak jadi bintang film?", kata Ana kepada Tari.


video-bokep-2.jpg








click.gif








10.gif



12.jpeg



13.gif



15.gif



16.gif



showimg+(1).gif



showimg+(1).jpeg



showimg+(2).gif



showimg+(3).gif



showimg+(4).gif



showimg+(5).gif



showimg+(6).gif



showimg+(7).gif





showimg.gif



showimg.jpeg





19.gif



giant.gif



showimg+(1).gif



showimg+(1).jpeg



showimg+(2).gif



showimg+(2).jpeg



showimg+(3).gif



showimg+(4).gif



showimg+(5).gif



showimg+(6).gif



showimg+(7).gif



showimg+(9).gif



showimg.gif



showimg.jpeg







Lalu Tari mengangguk pelan dan membiarkan Ana mengangkat kembali roknya ke atas sambil saling berbisik entah apa yang mereka perbincangkan. Ana tidak berhenti beraktivitas iapun membuka celana dalam Tari sehingga paha putih Tari kelihatan dengan jelas bukan hanya itu yang Ana lakukan iapun datang ke arahku yang sedang bengong bercampur heran melihat perlakuan Ana terhadap Tari. Aku yang seperti orang bodoh megikut saja ditarik oleh Ana menuju ketempat Tari yang sedang berbaring, jantungku berdegup kencang sekali ketika sudah berada dihadapan Tari bagaimana tidak aku melihat dengan sangat jelas vagina Tari yang masih tertutup rapat seperti mulut yang lagi tersenyum padaku, apalagi melihat bulu-bulu halus yang baru tumbuh di sekitar vaginanya namanya juga aku anak laki-laki yang normal penisku langsung ereksi melihat pemandangan nyata seperti itu, bukan di layar televisi yang biasanya kena sensor.Melihat keadaan seperti itu Ana lansung memegang penisku yang berada didalam celana dan meremas-remasnya dari luar, tidak puas dengan begitu iapun membuka celanaku dan keluarlah senjataku yang sudah berdiri tegap lalu dikocoknya penisku, aku melirik ke arah Tari yang sedang memperhatikan kami sambil senyam-senyum mengelus-elus vaginanya. Napasku semakin tidak teratur perasaanku seperti terlempar dan melayang keruangan yang kosong apalagi Ana mulai menarik penisku lalu mendekatkanya ke vagina Tari dan memutar-mutarkan kepala penisku di sekitar vagina Tari yang baru ditumbuhi bulu-bulu halus. Melihat Tari menikmati adegan ini akupun mulai berani meraba-raba paha Tari yang mulus dan putih aku juga mulai mepraktekkan beberapa adegan yang tadi aku lihat di film, jari-jari tanganku mulai bermain disekitar bibir luar vagina Tari.

"Ah.. uh.. sst..", Tari mulai bersuara yang sedari tadi hanya memejamkan matanya.

Ana mulai mundur perlahan-lahan kebelakang, sekitar setengah meter dari kami lalu duduk menghadap kami seakan-akan melihat dari jauh perbuatan aku dan Tari, aku sempat menoleh kearah Ana ternyata ia sudah tidak mengenakan rok dan celana dalam sehingga boleh dikata ia sudah dalam keadaan setengah telanjang, bagian paha dan vaginanya sudah terbuka semua, ia juga memainkan jari-jari tangan di vaginanya bahkan ada cairan yang mengalir di sekitar vaginanya itu.

Akupun tetap melakukan aktivitas kepada Tari, kepala penisku aku gesek-gesekan dibibir luar vagina Tari yang sudah licin oleh cairan bening yang menetes keluar dari penisku. Aku tidak pernah berpikir untuk menusukkan penisku ke lubang vagina Tari karena adegan itu tidak pernah aku lihat difilm sehingga aku hanya melakukan sebatas gerakan-gerakan meraba dan menyentuh saja. Tiba-tiba Ana berdiri dan menuju kami berdua satu tangannya membuka bibir vagina Tari dengan dua jarinya sementara tangan satunya sibuk mengocok penisku yang semakin licin bercampur cairan yang ada di tangan Ana.

"Auh.. geli An.. stt..", kataku.
"Sebentar lagi kamu akan merasa lebih geli Rur (kependekan namaku, Rury)", jawab Ana.

Lalu Ana menuntun penisku dan meggosok-gosokan kepala penisku ke clitoris Tari yang sudah licin entah kenapa.Selanjutnya dengan perlahan kepala penisku mulai aku rasakan masuk kedalam lubang vagina Tari.

"Ah.. sst.. pelan-pelan ya sakit nih..", seru Tari.Aku hanya diam karena sudah tidak sanggup berbuat ataupun berbicara apa-apa lagi, sementara Ana sibuk berusaha menuntun penisku agar bisa masuk dengan aman ke vagina Tari.
Aku mulai merasakan seperempat dari penisku sudah masuk kedalam vagina tari.
"Aduh.. ahh.. sst.. digoyang sedikit Rur biar gampang masuknya", ujar Tari kepadaku. Akupun mulai menekan-nekan pantatku ke bawah sehingga aku mulai merasakan penisku sudah hampir tertelan semua oleh vagina Tari.

Sementara itu Ana kembali ke tempatnya semula meninggalkan kami berdua yang sudah bisa mengendalikan keadaan, iapun kembali memainkan jari-jarinya ke vaginanya bahkan kali ini lebih hebat dari yang tadi;kedua jarinya ia putar-putarkan di clitorisnya sambil berdesis nikmat.

Di saat aku sudah mulai mempercepat goyanganku karena merasakan penisku akan masuk seluruhnya kedalam vagina Tari, iapun berteriak kesakitan, sambil menahan dadaku dengan kedua tangannya.

"Sedikit lagi Tar.. sst.. ahh", kata Ana dari jauh sambil terus mengesek-gesek clitorisnya.
"Kalau burung Rury sst.. sudah masuk semua auh.. sakitnya akan hilang ahh..", sambung Ana memberikan instruksi ringan kepada kami.
"Pelan-pelan ya Rur goyangnya", kata Tari kepadaku yang aku balas hanya dengan anggukan kepala dan mulai menaik turunkan pantatku yang perlahan tapi pasti semakin cepat, tetapi tiba-tiba dorongan Ana ke dadaku dengan kedua tangannya terasa sangat kuat sekali sehingga dengan segera aku berhenti bergoyang.
"Sa.. kit..", dengan sedikit agak berteriak Ana mengeluarkan kata itu.
"Sst.. aduh.. cabut dulu Rur", sambung Ana, dengan sangat perlahan.



video-bokep-2.jpg








click.gif








10.gif



12.jpeg



13.gif



15.gif



16.gif



showimg+(1).gif



showimg+(1).jpeg



showimg+(2).gif



showimg+(3).gif



showimg+(4).gif



showimg+(5).gif



showimg+(6).gif



showimg+(7).gif





showimg.gif



showimg.jpeg





19.gif



giant.gif



showimg+(1).gif



showimg+(1).jpeg



showimg+(2).gif



showimg+(2).jpeg



showimg+(3).gif



showimg+(4).gif



showimg+(5).gif



showimg+(6).gif



showimg+(7).gif



showimg+(9).gif



showimg.gif



showimg.jpeg








Dan dengan rasa tidak menentu aku melepaskan penisku dari vagina Tari dan akupun kaget ketika aku melihat ke penisku yang sudah keluar dari vagian Tari ada semacam darah yang melengket dibatang penisku yang kemudian aku juga melihat ke vagina Tari ada darahnya juga. Aku yang memang tidak pernah tahu mengenai hubungan sex atau bersenggama tentu menjadi panik dan heran mengalami keadaan ini otomatis penisku langsung berhenti ereksi.

Namun setengah meter dari kami, Ana justru sedang menikmati sekali permainannya bahkan semakin cepat menggosok-gosok vaginanya sendiri.
"Ah.. uh.. sst.. enaknya", desisnya sambil kaki Ana menjulur-julur tegang ke depan yang kemudian menusukkan jarinya kedalam lubang vaginanya dan mencabutnya serta menjilatnya sambil tersenyum kecil ke arah kami yang masih dalam kebingungan karena darah yang kami lihat. Aku menjadi berpikiran bahwa Ana sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.

Lalu Ana berdiri dan menuju kearah kami.
"Darah itu tidak apa-apa Tar!", kata Ana kepada Tari yang masih meringis menahan sakit.
"Aku juga begitu awalnya", aku menjadi kaget mendengar pernyataan Ana yang ternyata benar dugaanku bahwa dia telah lebih dulu melakukan hubungan sex entah dengan siapa. Lalu Ana membantu Tari bangkit dari tempatnya.
"Mari aku bantu membersihkan darah itu dikamar mandi", kata Ana dan mereka berdua berjalan kebelakang.

Aku melihat Tari berjalan disisi Ana sambil tertatih-tatih seperti orang baru belajar berjalan sementara akupun sibuk membersihkan penisku seadanya dari darah yang melengket dibatang senjataku itu dan mengumpulkan pakaianku yang berserakan di lantai lalu memakainya kembali.

Tak lama kemudian mereka keluar dari dalam rumah menemuiku yang setelah berpakaian menunggu diteras, aku melihat Tari masih menahan sakit yang mungkin masih tersisa. Lalu akupun pamit pada Tari hendak pulang yang disusul oleh Ana yang juga ikutan mau pulang, aku berjalan turun dari teras sementara Ana aku lihat masih berbincang dengan Tari yang kemudian menyusulku dari belakang. Persis ketika aku hendak menutup pintu halaman muncul Wati yang baru pulang dari ngerumpi dengan tetangga depan.

*****

Dua hari kemudian tepatnya hari Sabtu pagi dan kebetulan hari itu libur sekolah, aku lupa libur untuk apa yang jelas tanggal di kalender berwarna merah. Aku, Awal, Ana dan Nono serta beberapa teman laki-laki dan perempuan berkumpul dilapangan dekat rumah Nono sesuai dengan kesepakatan kami sehari sebelumnya.

Jarum jam di arlojiku sudah menunjukan pukul 09.15 pagi dan kami sudah lengkap semuanya, kurang lebih ada 11 orang termasuk aku, Awal, Ana dan Nono. Kita semua akan melakukan pendakian atau semacam kemping kecil-kecilan dibukit belakang lorong kami, kebetulan di belakng lorong kami ada sedikit bukit yang masih teduh sehingga masih enak untuk dijadikan tempat membuat kemah-kemahan. Tetapi kami tidak bermalam karena jaraknya dekat, petang hari nanti kami akan pulang juga.

Kamipun menuju bukit itu tetapi sambil lewat kami akan singgah dulu dirumah Tari untuk mengambil beberapa perlengkapan dan sekalian menjemput Tari dan memang jalan untuk naik ke bukit itu berada sekitar 200 meter dibelakang rumah Tari. Taripun ternyata sudah siap dihalaman rumahnya dengan memakai topi berwarna warni, baju kaos berwarna biru dan celana puntung ketat. Segala perlengkapan yang akan kami bawapun telah siap semua sehingga kami tidak berlama-lama disitu.

Pikiranku sempat ngeres sedikit ketika melihat Tari berpenampilan begitu setelah kejadian 2 hari yang lalu, namun ketika Ana melihat ke arahku aku tersenyum kecil dan mengalihkan perhatianku ketempat lain. Setelah berjalan satu jam setengah kamipun sampai dipuncak bukit itu dan mulai membangun beberapa buah kemah untuk dijadikan tempat beristirahat dan makan. Sementara itu teman perempuan termasuk Ana dan Tari menyiapkan bekal makanan yang memang telah dimasak dari rumah untuk makan siang kami.

Empat buah kemah telah kami bangun dan siap untuk dibangun. Salah satu kemah kami gunakan sebagai tempat makan dan menyimpan peralatan, tas dan segala peralatan untuk bermain serta beberapa makanan sore hari nanti sebelum kami pulang. Sambil teman-teman perempuan terus menyiapkan makanan dan menata peralatan yang disimpan di kemah itu kami yang pria bermain-main sambil menunggu pangilan untuk makan.

"Ayo.. makanan telah siap", seru Ana kepada kami yang masih sedang bermain dengan nada memanggil, kamipun lalu bergabung dengan mereka di tenda tempat makanan disediakan.

Selesai kami santap siang bersama kamipun melanjutkan bermain-main aku bermain bola dengan beberapa orang teman, ada juga yang masuk ketenda tidur-tiduran mungkin karena kekenyangan.Awal dan Nono aku lihat asyik bermain gitar dan menyanyi-nyanyi di bawah sebuah pohon jati tua, disampingya ada Ana sedang membaca majalah. Aku tidak melihat Tari mungkin ia juga sedang beristrahat didalam salah satu tenda.

Rupanya cuaca kurang bersahabat pada kami hari itu, tiba tiba hujan turun dengan sangat deras padahal langit pada waktu itu terang benderang seperti pada waktu kami berangkat tadi.Kamipun berhamburan masuk ketenda-tenda untuk berteduh, aku masuk ketenda tempat penyimpanan barang. Kebetulan pada waktu hujan tadi turun aku sedang mengambil bola yang terlempar disamping tenda itu. Ternyata ditenda itu hanya ada Tari yang sedang menyiapkan makanan untuk kami makan sore nanti sebelum kami pulang, akupun membantu Tari di dalam tenda itu sambil kami berbincang-bincang ringan. Arlojiku di tanganku sudah menunjukan pukul 14.30 siang namun hujan belum reda juga bahkan langit semakin gelap.

Lalu aku mencoba melihat keluar tenda sambil mengamati tenda-tenda yang lain ternyata Awal dan dua orang teman perempuan nekat keluar dari tenda tempat mereka berteduh dan berlari menghampiri aku dan Tari. Rupanya mereka mau mengambil tas mereka di dalam tenda itu.

"Tolong dong ambilkan tas kami, nanti kalau kami yang ambil barang yang lain ikut basah", kata Awal kepada Aku dan Tari dengan nada menyuruh.
"Memangnya kalian mau kemana", kataku.
"Mereka berdua ini punya acara sebentar malam", sambil Awal memandang kedua teman perempuan kami yang sudah menggigil kedinginan.
"Dan mereka memintaku untuk mengantar mereka pulang", sambung Awal.
"Apa tidak sebaiknya menunggu hujannya reda", kataku kepada mereka bertiga.
"Justru mereka khawatir hujannya terlambat berhenti, sehingga mereka bisa terlambat untuk keacara itu", kata Awal menjelaskan. Akhirnya mereka bertiga nekat pulang dengan keadaan hujan yang sangat deras sekali, aku dan Tari memandang mereka dari dalam tenda yang lama kelamaan menghilang di kejauhan. Sambil melipat kedua tanganku dan duduk dipintu tenda, aku dan Tari berbincang-bincang ringan, lalu aku merasakan seperti ada sesuatu yang menggelitik di dalam celana panjangku.

Akupun spontan langsung berdiri, "Aduh.. apa ini", kataku khawatir takut ada binatang di dalam celanaku.

Tanpa banyak pikir akupun spontan membuka celana panjangku yang tanpa aku sadari Tari berada di sampingku. Akupun sekarang tinggal mengenakan celana dalam.Waktu itu aku memang pakai celana dalam karena tahu mau jalan jauh. Aku kibas-kibaskan celanaku hendak menjatuhkan sesuatu apabila ada yang melekat di celanaku sambil meraba-raba seluruh bagian bawah tubuhku sampai ke ujung kaki, bahkan sempat mengintip kedalam celana dalamku mencari mungkin ada binatang yang masuk ke situ.

"Mari coba ku periksa", seru Tari sambil menarik celana panjang yang aku pegang.

Akupun baru sadar bahwa di situ bukan aku sendiri sehingga aku sedikit malu dalam keadaan setengah bugil didepan Tari. Iapun memeriksa celana panjangku itu dan hanya mendapatkan sehelai daun dari dalamnya yang entah kenapa bisa berada di dalam celana panjangku. Mungkin waktu aku sedang bermain bola tadi yang beberapa kali terjatuh di atas rumput liar.

Tari lalu kembali menyodorkan celana panjang itu kepadaku yang tanpa sengaja menyentuh penisku yang setengah ereksi akibat tertiup udara dingin. Spontan penisku semakin ereksi, mungkin tersentuh oleh tangan dingin Tari. Perubahan pada penisku itu terlihat oleh Tari karena celana dalam yang aku pakai mengembang keluar seakan ada benda di dalamnya yang memaksa keluar, tetapi aku coba mengacuhkan kejadian itu sambil mengambil celana panjangku dari tangan Tari kemudian berbalik membelakanginya.

Saat hendak memasukkan satu kakiku kedalam lubang celana panjangku aku merasakan penisku ada yang meraba dari belakang, karena hanya bertumpu pada satu kaki saja aku terpelanting ke samping dan jatuh di atas lantai karpet di dalam tenda itu. Akupun merasakan ada sebuah tangan ikut tertindih olehku yang ternyata adalah tangan Tari. Pahakupun terasa dingin oleh karpet yang lembab akibat hawa air hujan yang merembes dari dari dalam tanah. Walaupun aku telah menindih tangan Tari dan mengira ia kesakitan yang ternyata tidak. Justru tangan halus itu bekerja meremas remas batang penisku yang semakin kuat berdiri. Detak jantung terasa makin cepat.


video-bokep-2.jpg








click.gif








10.gif



12.jpeg



13.gif



15.gif



16.gif



showimg+(1).gif



showimg+(1).jpeg



showimg+(2).gif



showimg+(3).gif



showimg+(4).gif



showimg+(5).gif



showimg+(6).gif



showimg+(7).gif





showimg.gif



showimg.jpeg





19.gif



giant.gif



showimg+(1).gif



showimg+(1).jpeg



showimg+(2).gif



showimg+(2).jpeg



showimg+(3).gif



showimg+(4).gif



showimg+(5).gif



showimg+(6).gif



showimg+(7).gif



showimg+(9).gif



showimg.gif



showimg.jpeg








"Ah.. sst", desahku dengan napas yang mulai tidak beraturan.
"Ahh.. ayo.. dong Rur", seru Tari yang sedang memelukku dari belakang sambil memasukan kedua tangannya ke dalam celana dalamku, kini kedua tangannya mulai beraksi satunya meremas-remas batang penisku yang satunya lagi memainkan biji penisku.
"Uh.. sst.. ahh", desisku seakan melayang-layang. Rupanya setan jahat dibukit itu mulai memasuki kami berdua yang mulai saling bergulatan di atas karpet yang dingin dalam tenda itu.
"Rur.., semenjak kejadian kemarin aku ingin kamu menusukku lagi", bisik Tari dari belakang persis dekat telingaku sambil terus memutar-mutar batang penisku. Akupun membalikkan badanku dan memposisikan diriku berada diatasnya. Kedua lututku yang berada disisi luar paha kanan dan kiri Tari menjadi tumpuan dibantu tanganku yang berada disisi kiri kanan lehernya.
"Kalau kamu berdarah lagi, bagaimana?", sambil menggosok-gosokkan penisku pada celana puntungya yang ketat persis diatas posisi pepeknya berada.
"Kemarin setelah kalian pulang sst.. aku mencoba menusukkan jariku kembali kedalam pepeku uh..", seru Tari sambil sesekali berdesis mungkin mulai terangsang oleh gesekan penisku di pepeknya yang masih tertutup oleh celana puntungnya.
"Memang.. ah.. ada darah.. sst.. tapi hanya sedikit keluarnya", sambungnya lagi.
"Pokoknya kamu jangan takut", seakan-akan coba meyakinkan aku agar mau melanjutkan permainan ini.
Akupun tidak berhenti beraktivitas diatas tubuh Tari, sedikit demi sedikit aku mulai melucuti celana puntungnya.
"Bajumu dibuka dong!", seruku menyuruh Tari membuka bajunya.
Sekarang Tari hanya mengenakan celana dalam saja tanpa merasakan dinginnya udara, mungkin karena pemanasan yang telah kami lakukan lebih dahulu tadi. Tanganku mulai mengelus-elus paha mulus Tari dan memainkan jari-jariku di pinggir celana dalamnya di sekitar selangkangannya.

"Ah.. sst.. didalam dong Rur ouh..", memintaku memasukan tanganku di dalam celana dalamnya sambil tangannya terus mengocok penisku yang mulai basah dan licin oleh air yang keluar dari senjataku itu sendiri.
Dengan sedikit permainan tanganku akhirnya celana Tari sudah terlepas meninggalkan tempatnya melekat dan sebuah bukit kecil memerah terpampang di depanku, peniskupun semakin kuat dikocoknya.
"Ouh.. sst.. gelinya.. jangan digoyang terlalu cepat Tar.. sst", sambil tanganku terus bermain dibibir luar vagina Tari.
"Tusuk.. uhh.. tusukkan jarimu.. ouh.. Rur", pinta Tari. Akupun memasukkan jari tanganku kelubang vaginanya.
"Aduh.. ayo Rur ohh.. goyangin dong sst..", pinta Tari lagi kepadaku untuk menggerakkan jariku di dalam vaginanya.
"Ouh.. ayo.. lebih kencang lagi ohh.. ayo.. Rur", kini pantat dan pinggulnya mulai ikut bergoyang seperti sedang menari mengikuti permainan jariku di dalam vaginanya.
Aku kini merasakan tangannya sudah berhenti mengocok penisku namun tetap digenggammya erat-erat semakin kencang aku memainkan jariku didalam vaginanya genggamannyapun semakin kuat sambil terus merintih dan meliuk-liuk.
"Sst.. oh.. woa..", serunya semakin tidak karuan karena merasakan kenikmatan.

Kemudian aku mengganti posisiku pindah diantara kedua paha Tari yang sudah terbuka lebar dan bertumpu pada kedua lututku sementara dia tetap pasrah berada di bawahku. Tangannya kini sudah melepaskan penisku, dia hanya terlentang pasrah menunggu permainan dariku dan merasakan kenikmatannya. Jari tanganku terus beraksi tetapi bukan lagi bermain di dalam vagina Tari namun aku tusukkan keluar masuk ke dalam vaginanya dan sesekali memainkan clitorisnya yang sudah licin sekali.

"Oh.. enak Rur.. aduh.. sst..", sambil Tari terus mendesis-desis nikmat.
"Ouh.. ayo masukkan jarimu semua kalau bisa oh.. ayo Rur masukan..", pinta Tari sedikit agak berteriak seperti orang lagi menanti sesuatu yang belum kunjung tiba. Akupun sempat was-was karena takut kedengaran oleh teman lain, untung saja hujan belum terlalu reda sehingga bisa sedikit menutup suara Tari tadi.
"Ohh.. sst..", akupun mulai mendesis melihat kenikmatan yang diekspresikan oleh Tari lalu penisku yang seperti sudah mau meledak aku masukkan kepalanya di mulut vagina Tari secara perlahan dan menggoyang-goyangkannya dengan tanganku yang sesekali memutarnya pada clitoris Tari yang sudah licin oleh campuran air punyaku dan punya Tari sendiri.
"Ahh.. enak ya..", tanyaku perlahan pada Tari.
"Ouw.. sst.. enak Rur ayo masukkin dong oh..", balas Tari dengan suara napas yang semakin memburu ditengah suara hujan yang mulai reda.

Kaki Tari aku rasakan mulai melingkar di pinggangku dan secara perlahan mendorong pinggulku kedepan sehingga perlahan-lahan batang penisku mulai terbenam ke dalam lubang vaginanya.
"Ohh.. ayo Rur masukkan sst..", pinta Tari untuk kesekian kalinya kepadaku.
"Ahh.. aduh enaknya.. oh..", balasku mulai merasakan setengah penisku sudah masuk ke dalam lubang kenikmatan itu.
"Ayo.. goyang Rur", seru Tari padaku, akupun mulai menaik turunkan pantatku.
"Ohh.. ohh.. uh..", desisku dengan suara napas yang semakin memburu merasakan kenikmatan yang baru aku rasakan.

Penisku kini sudah tenggelam semua kedalam vagina Tari akupun tak berhenti bergoyang bahkan semakin cepat seperti ada dorongan dari dalam akibat rasa geli yang semakin menggelitik. Kaki Taripun kini semakin erat terasa melingkar dipinggangku bahkan semakin kuat ketika penisku aku tekan dalam-dalam.
"Ohh.. yah.. yah.. ohh..", tiba-tiba Tari mengerang panjang sekali dan terasa penisku dihimpit keras di dalam vaginanya, kakinya kini terasa semakin erat sekali melingkar di pinggangku sehingga terasa sakit sedikit di situ.

Perlahan-lahan kaki Tari terjatuh lemas terlepas dari pinggangku aku yang melihat ekspresi Tari justru semakin bernafsu akupun semakin kencang menggoyangkan penisku keluar masuk dari vaginanya namun tiba-tiba pintu tenda terbuka dan aku kaget sembari cepat-cepat turun dari atas tubuh Tari yang sudah lemas dan pasrah. Ternyata yang masuk itu adalah Ana ingin menanyakan kapan kita akan pulang karena hujan telah berhenti dari tadi tanpa Aku dan Tari sadari, akupun melirik ke arlojiku yang telah menunjukkan pukul 17.15 sore.

Berbeda dengan aku yang sedikit agak gugup dengan kehadiran Ana dan menyaksikan perbuatan kami, Tari dengan keadaan yang sedikit lemas menjawab pertanyaan Ana.

"Ayo sekarang kita pulang saja", sambil mengenakan pakaiannya satu persatu.

Akupun sudah mengenakan pakaianku dari tadi ketika Ana membuka pintu kemah. Taripun membenahi segala peralatan yang akan dibawa pulang serta satu persatu teman-teman mengambil barangnya yang disimpan ditenda itu. Aku mendengar di luar teman-teman mulai sibuk membongkar tenda dan bersiap untuk pulang.

Kembali Ana masuk kedalam tenda itu dimana aku masih berada di dalamnya hendak mempersiapkan juga peralatanku untuk dibawa. Tanpa aku sadari Ana memperhatikan resleting celanaku yang lupa aku naikkan.

"Rur enak ya tadi", aku kaget mendengar pertanyaan Ana itu.
"An jangan bilang siapa-siapa ya", balasku kepada Ana.
"Oke! Pasti nikmat sekali ya Rur", tanya Ana lagi kepadaku dengan santainya.
"Nikmat apanya waktu kamu masuk tadi aku belum selesai", balasku menjawab pertanyaan Ana dengan nada sedikit kecewa.
"Ohh..", seru Ana.



video-bokep-2.jpg








click.gif








10.gif



12.jpeg



13.gif



15.gif



16.gif



showimg+(1).gif



showimg+(1).jpeg



showimg+(2).gif



showimg+(3).gif



showimg+(4).gif



showimg+(5).gif



showimg+(6).gif



showimg+(7).gif





showimg.gif



showimg.jpeg





19.gif



giant.gif



showimg+(1).gif



showimg+(1).jpeg



showimg+(2).gif



showimg+(2).jpeg



showimg+(3).gif



showimg+(4).gif



showimg+(5).gif



showimg+(6).gif



showimg+(7).gif



showimg+(9).gif



showimg.gif



showimg.jpeg







Tiba-tiba tangan Ana mengarah ke bagian penisku sambil berkata, "Itu restnya lupa dikancing".
Aku pikir ia akan membantuku mengancing restliting celanaku karena kedua tanganku sudah terlanjur penuh dengan barang-barang yang akan aku keluarkan dari tenda itu. Ternyata ia malah membuka celanaku dan memerosotkannya sampai di lututku dan mengocok penisku yang tidak tahu apa sebabnya sudah dalam keadaan ereksi. Karena memang aku masih tanggung tadi dengan Tari aku membiarkan Ana mengocok penisku sambil menurunkan kembali barang yang berada di kedua tanganku.



video-bokep-2.jpg








click.gif








10.gif



12.jpeg



13.gif



15.gif



16.gif



showimg+(1).gif



showimg+(1).jpeg



showimg+(2).gif



showimg+(3).gif



showimg+(4).gif



showimg+(5).gif



showimg+(6).gif



showimg+(7).gif





showimg.gif



showimg.jpeg





19.gif



giant.gif



showimg+(1).gif



showimg+(1).jpeg



showimg+(2).gif



showimg+(2).jpeg



showimg+(3).gif



showimg+(4).gif



showimg+(5).gif



showimg+(6).gif



showimg+(7).gif



showimg+(9).gif



showimg.gif



showimg.jpeg






"Ayo Rur.. kasih keluar", seru Ana.
"Oh.. ya.. sst.. cepat sedikit.. An.. oh.. uh..", menyuruh Ana mempercepat kocokannya.
"Ah.. ya.. sudah geli nih..ya..sedikit lagi..", seruku dengan napas sedikit memburu.
"Oh.. ya.. enaknya.. uhh..", air maniku muncrat sampai empat kali dan sedikit mengenai wajah Ana. Perasaanku langsung seperti melayang ke langit ketujuh dan berangsur-angsur merasa lemas dan berlutut dibawah kaki Ana.

Tak lama kemudian Ana menegurku sambil tersenyum, "Rur ayo pulang sudah sore nih".
Akupun tersadar dan buru-buru berdiri, menarik celanaku dan mengancingnya kembali lalu membawa barang yang tadi hendak aku bawa keluar dari tenda itu. Setelah kami sudah siap semuanya kamipun bergerak pulang kembali tepat jam di tanganku menunjukkan pukul 17.48 sore.

No comments:

Post a Comment